Ada masa dimana anak sangat suka melawan dan keras kepala. ini adalah fase yang sangat alami pada masa pertumbuhan kejiwaan anak, karena pada saat inilah anak menyadari bahwa dia adalah pribadi yang independen dari orang-orang dewasa terutama orang tuanya.
Yang membuat dia semakin keras kepala adalah
Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts
Sunday, 16 September 2012
Monday, 10 September 2012
Orang Tua yang Baik itu......
Apakah Anda orang yang malas senyum? Kalau jawabannya: ya, lalu perhatikan anak -anak Anda. Soalnya sebuah riset mengatakan, anak-anak khususnya yang masih sangat muda, bercermin pada ekspresi wajah Anda. Jadi semakin banyak Anda tersenyum, lebih mudah pula anak Anda tersenyum serta mendapat perasaan yang lebih menggembirakan.
Dari hal keseharian yang kelihatannya tak susah dilakukan, majalah Parents, edisi Agustus (1999) menulis, semua orang bisa menjadi orangtua lebih baik. Ada sejumlah hal yang terlupakan, padahal kalau dilakukan, amat baik bagi perkembangan anak dimasa mendatang.
Salah satu contoh dari sekian banyak hal yang dikemukakan, ya mengenai senyum tadi. Banyaknya pekerjaan yang mesti dilakukan orangtua pada umumnya-mulai dari urusan rumah sampai kantor, juga urusan sosial-membuat orang kadang-kadang hidup dalam ketegangan. Malah banyak orang merasa sering kehabisan waktu.
Coba sesekali tanyakan pada diri sendiri: sudahkah saya senyum atau tertawa hari ini? Apakah saya tertawa pada lelucon yang disampaikan anak?
Jangan-jangan sepanjang hari Anda cuma sibuk memikirkan macam-macam hal, sehingga lupa merespons cerita anak secara menyenangkan. Padahal, senyum sederhana sekalipun, bisa melepaskan ketegangan dan segera meningkatkan kegembiraan Anda. Kendati Anda tidak ingin tersenyum, para ilmuwan menganjurkan, jangan segan-segan memaksa bibir Anda untuk senyum, karena hal ini akan meningkatkan semangat Anda.
Mempunyai anak kecil kadang memang membuat Anda jadi tak sabar, terutama kalau mereka membandel, “melanggar” aturan yang Anda berikan. Umpama saja, sudah dipesan berulang kali, masih saja si kecil makan kue menjelang waktu makan. Akibatnya ketika harus makan dia malah ngambek dan uring-uringan.
Kalau dalam situasi seperti itu, Anda balik marah, akibatnya akan menjadi lebih negatif. Si anak akan bertambah kerewelannya, membuat Anda dua kali kesal.
Untuk mengurangi emosi, pindah ke ruang lain. Jika kebetulan “keributan” itu terjadi di tempat umum, di pasar swalayan, misalnya, berpalinglah ke lain gang supaya Anda bisa berjarak untuk sementara. Seorang ibu punya cara menarik untuk mengatasi kekesalannya. Kebetulan kejadiannya di rumah, sehingga dia bisa pergi ke lemari es, mencuci muka dengan es-es itu. “Es yang dingin itu ternyata mendingink an hati saya juga. Dan itu mengingatkan saya agar tidak bertengkar (dengan anak saya),” katanya.
Malas-malasan bersama
Sudah lazim seluruh anggota keluarga kumpul semua di rumah. Paling tidak pada hari libur akhir pekan, anak tidak ke sekolah, orangtua tidak harus pergi ke tempat kerja. Namun banyak keluarga yang asyik pada pekerjaan atau kesukaan masing-masing. Si ibu mungkin melampiaskan waktu luangnya membaca majalah atau buku, suaminya utak-atik kendaraan, sedang anak mendapat kelonggaran main game atau nonton film sepuasnya di hari libur. Pendeknya mereka semua berada dalam satu atap, tetapi sebenarnya masing-masing ada di tempat lain.
Waktu kebersamaan yang tak terstruktur mungkin merupakan hadiah berharga yang bisa Anda berikan buat buah hati Anda. Tak ada salahnya sekali atau dua kali dalam seminggu Anda mencari waktu luang satu atau dua jam bersama seluruh anggota keluarga. Abaikan sejenak aktivitas lain. Kalau perlu tunda waktu mandi atau bersih -bersih badan. Ajak anak-anakngumpul ke tempat tidur Anda, santai atau b ermalas-malasanlah bersama. Tentu tidak dalam arti untuk tidur lagi setelah bang un pagi karena hal itu bukan tujuannya, tetapi kebersamaan seperti inilah yang diharapkan bisa membangun keakraban secara lebih efektif. Malas-malasan bareng ini tak mesti dilakukan di kamar atau di tempat tidur, tetapi juga bisa dilakukan di ruang keluarga.
Jika anak Anda masih balita, kesempatan ini sekaligus juga bisa digunakan untuk “melihat dunia melalui mata mereka”. Biarkan si kecil bercerita apa saja menurut versi anak-anak. Ini akan memperkukuh perasaannya bahwa perasaan dan pikiran mereka dihargai.
Satu hal yang perlu dijaga, tahan untuk tidak menggurui, memperbaiki atau memotong-motong cerita mereka. Dengarkan saja, mungkin di luar dugaan dari cerita mereka Anda bisa mengetahui perasaan-perasaan yang ada dalam diri mereka, juga panda ngan mereka tentang hal tertentu. Tidak setiap kali Anda bisa mengungkap itu, cuma sekali waktu, pasti Anda mendapatkannya tanpa terduga.
Sentuhan
Banyak orang dewasa yang menganggap sepele komunikasi lewat sentuhan fisik. Malah orang lupa bagaimana kuatnya gerakan-gerakan fisik sederhana dalam mengeks presikan perasaan cinta.
Ciuman atau belaian singkat sangat dianjurkan untuk diberikan kepada anak sebelu m mereka berangkat ke sekolah, karena memberikan rasa aman. Sesekali Anda perlu mengingat: “Eh apa saya sudah mengekspresikan rasa sayang saya hari ini dengan sentuhan?”
Meski demikian, Anda perlu sensitif untuk melakukannya. Salah-salah anak Anda merasa malu atau tak nyaman dengan cara Anda mengekspresikan cinta. Maka sebaiknya Anda mengetahui persis bagaimana bentuk sentuhan yang paling efektif buat anak Anda.
Jangan sepelekan manfaat mendongeng buat anak-anak. Sesibuk apa pun orangtua, tugas ini hendaknya tidak diabaikan. Tak punya waktu, tidak boleh jadi alasan untuk tidak mendongeng untuk anak. Apalagi dongeng bisa dilakukan sambil tidur-tidur an. Toh waktu yang diperlukan cuma sebentar saja. Kalau tak bisa setengah jam, seperempat jam pun tak jadi soal.
Mengapa Anda perlu “memberi makan” anak-anak dengan dongeng, karena cerita secara tak langsung mengajarkan kehidupan. Bahkan sebuah penelitian menemukan, irama, ritme, dan tekanan suara-yang kebalikan dari jenis suara bicara-memberi ketenangan pada anak serta membantu membebaskan dari rasa takut. (Parents/ret)
Sumber : Harian Kompas (8/8/1999)
Sumber: Beberapa Cara Menjadi Orang Tua Yang Baik | Keluarga http://keluargacemara.com/keluarga/beberapa-cara-menjadi-orang-tua-yang-baik.html#ixzz267RXSLGF
Sepuluh Perangkat Penting dalam Pengasuhan yang Positif
MENENTUKAN BATASAN.
Perlu diyakini bahwa setiap anak itu memerlukan batasan. Anak benar-benar membutuhkan aturan yang lentur dan ia akan mengalami kebingungan tanpa peraturan. Dengan membuat batasan berarti kita telah menyediakan lingkungan fisik yang memberikannya rasa aman dan dapat dijadikan tempat belajar. Setiap usia akan mempunyai batasan tersendiri, dengan demikian kita sebagai orangtua juga harus siap untuk memperluas batasan kita sesuai dengan perkembangan usia anak.
Jika kita menentukan batasan tidak perlu banyak-banyak, paling banyak 5 atau 6 saja. Letakkan di tempat yang mudah dilihat mereka, sepertinya di pintu kulkas adalah tempat yang tepat.
4 petunjuk tepat bagi keluarga mengenai bagaimana memperlakukan dan diperlakukan anggota keluarga dengan baik:
Tuesday, 21 August 2012
Perkembangan Psikologi Anak Dalam Kehidupan Sosial
Perbedaan fase perkembangan status sosial di dunia anak-anak
dalam persahabatan dan mendapatkan kawan bermain di lingkungan sekolah dan di
luar lingkungan sekolah, berbeda dengan pengertian persahabatan yang terjadi
pada orang dewasa, untuk orang dewasa persahabatan adalah suatu ikatan relasi
dengan orang lain, di mana kepercayaan, pengertian, pengorbanan dan saling
membantu satu sama lainnya akan terjalin dalam periode yang lama, sedangkan di
dunia anak-anak tidak seperti halnya yang terjadi pada orang dewasa, di dunia
anak-anak persahabatan terjalin tidak untuk waktu yang lama, terkadang bila
terjadi masalah yang kecil saja, jalinan persahabatan tersebut akan terputus.
Ada dua metode penelitian untuk mengetahui arti
persahabatan dan kawan bermain di dalam dunia anak-anak :
Cermati Perkembangan Psikologis Balita
Setiap anak mengalami perkembangan fisik dan mental, yang sama pentingnya. Anak yang memiliki perkembangan fisik yang sehat, maka akan mempengaruhi kesehatan mental atau psikologisnya. Seperti peribahasa mengatakan, bahwa dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula. Demikian pula sebaliknya, kondisi kesehatan fisik yang buruk pasti akan berdampak kurang baik bagi kesehatan psikologis anak.
Perkembangan psikologi anak berawal sejak mereka baru dilahirkan. Bayi yang baru lahir biasanya belum mengenal rasa takut dan preferensi untuk melakukan kontak dengan orang-orang. Penelitian membuktikan bahwa dalam beberapa bulan pertama kehidupannya, bayi hanya mengalami perasaan bahagia, sedih, dan marah. Sebuah senyum pertama bayi biasanya terjadi saat ia berusia antara 6-10 minggu. Senyum ini, dilihat dari ilmu psikologi anak, biasa disebut dengan senyum sosial karena umumnya terjadi saat interaksi sosial.
Wednesday, 15 August 2012
Anak Belajar dari Kehidupannya, Dorothy Law Nolte
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, ia belajar gelisah
Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan iri hati, ia belajar kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, ia belajar mencintai
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, ia belajar mengenali tujuan
Jika anak dibesarkan dengan rasa berbagi, ia belajar kedermawaan
Jika anak dibesarkan dengan kejujuran dan keterbukaan, ia belajar kebenaran dan keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan
Jika anak dibesarkan dengan ketentraman, ia belajar berdamai dengan pikiran
Label:
Anak,
Balita,
Development Through The Lifespan,
Parenting,
Psikologi
Agar Balita Mau Mendengarkan
Mendengarkan dan mengikuti instruksi yang diberikan oleh bunda maupun ayah memang bukanlah hal faforit balita terutama bagi usia-usia pra-sekolah. George Morison, Ed.D, Professor Fakultas Pendidikan Usia Dini Universitas Texas, Denton, menyatakan bahwa disaat yang sama, balita berusia 3-5 tahun menjadi sangat independent, artinya mereka sama sekali tidak menyukai interupsi dari siapapun terlebih ayah bundanya. Mengacuhkan anda, adalah salah satu cara untuk menunjukkan "kekuasaannya"
Namun dengan memakluminya bukan berarti mengijinkan mereka untuk tidak mendengarkan perkataan dan instruksi anda. Sangat penting mengajarkan ia untuk mendengarkan, sebuelum mengacuhkan anda dan orang lain menjadi kebiasaan. Membangun ketrampilan sosial yang benar akan membantunya sukses dalam beradaptasi pada tahap perkembangan selanjutnya. Bunda bisa mulai mendorong balita untuk mendengar dengan strategi berikut:
Namun dengan memakluminya bukan berarti mengijinkan mereka untuk tidak mendengarkan perkataan dan instruksi anda. Sangat penting mengajarkan ia untuk mendengarkan, sebuelum mengacuhkan anda dan orang lain menjadi kebiasaan. Membangun ketrampilan sosial yang benar akan membantunya sukses dalam beradaptasi pada tahap perkembangan selanjutnya. Bunda bisa mulai mendorong balita untuk mendengar dengan strategi berikut:
Thursday, 5 July 2012
Diet Televisi
Akhir-akhir ini, saya sedang berkonsentrasi melakukan diet teve untuk kedua buah hati. Masalah ini timbul ketika kami terpaksa harus menumpang di orang tua dengan berbagai pertimbangan. Di rumah neneknya, televisi terbiasa menyala hampir 24 jam sehari. bahkan ketika tidak ada yang menonton. Wuih…! Repot, kan?
Sehingga menonton teve menjadi kebiasaan baru buah hati saya. Dan ternyata banyak yang mengalami masalah seperti yang saya alami. Coba simak data yang ysaya kutip dari majalah Ummi ini : Dari Penelitian UNDIP dalam menyiapkan baseline data untuk Pendidikan Media 2008 mendapati mayoritas anak-anak yang diteliti mengaku mnghabiskan waktu 3-5 jam pada hari sekolah dan 4-6 jam pada hari libur untuk menonton televisi. Bahkan beberapa dari mereka secara ekstrem mengaku menonton teve 16 jam pada hari libur!. Sebesar 72,9% anak-anak yang menjadi responden Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) 2009 menonton teve selama 4,3 jam per hari. Padahal Menurut Kepala Divisi Informasi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Bobi Guntarto menyarankan agar bayi usia 0-3 tahun tidak perlu diberi suguhan televisi. Untuk anak SD pun televisi hanya boleh ditonton sebanyak 2 jam sehari.
Jumlah jam menonton itu sendiri didukung jumlah tayangan anak yang kian beragam di banyak stasiu teve. Pada pekan ketiga Maret 2009 diperoleh data, total durasi program anak di semua teve swasta adalah 125 jam. Namun ternyata, 6 % anak-anak menonton komedi situasi dan 5,9% menonton sinetron remaja. Bahkan AGB Nielsen (2008) menemukan, bahwa top 10 program yang ditonton anak-anak 5 tahun ke atas adalah reality show seperti termehek-mehek dan Me vs Mom.
Kenapa ya, anak suka menonton TV?
Menurut Rubin, seorang peneliti media, sejumlah motivasi bagi anak dan remaja menonton teve :
- Relaksasi. Bagi banyak anak, menonton membuat mereka rileks dan santa.
- Menjadi teman. Menonton teve ibarat teman yang membuat anak tidak merasa kesepian.
- Karena kebiasaan. Saking seringnya dilakukan, menonton teve bisa menjadi kebiasaan. Apalagi kalau tidak ada aturan menonton teve di rumah.
- Menghabiskan waktu. Banyak anak yang akhirnya lari ke teve karena tidak punya kegiatan lain yang harus dilakukan. Banyaknya waktu luang membuat mereka menonton teve.
- Untuk interaksi sosial. Menonton teve bisa menjadi kegiatan bersama dengan teman-temannya. selain itu menonton teve bisa menjadi bahan obrolan yang me ngasyikan dengan teman dan sahabat.
- Mendapatkan informasi. Teve dianggap dapat memberikan info mengenai hal-hal baru dan kejadian di sekeliling mereka.
- Seru, menarik dan semangat. Bagi banyak anak, menonton teve itu seru, menarik dan membangkitkan semangat. Pernah melihat anak-anak terpaku menyaksikan film animasi avatar atau naruto?. Bagi mereka tontonan seperti ini seru dan membuat semangat.
- Melarikan diri (escape). Melepaskan diri dari kewajiban, keluarga atau hal yang tidak ingin dikerjakannya.
- Hiburan. Televisi adalah hiburan yang murah meriah, mudah di dapat di mana saja.
Banyaknya tontonan kekerasan dan supranatural
Hendriyani dkk (2009) menemukan bahwa program anak-anak yang tersedia mulai pukul 04.30-20.00 WIB adalah program import yang berkategori animasi. Yang temanya sebagian besar kekerasan dan supranatural. Adegan kekerasan berpotensi menbuat anak meniru kekerasan serupa. Mungkin masih segar dalam ingatan kita kasus meninggalnya Reza Ikhsan Fadilah (9) tahun tewas setelah diplintir ketiga temannya yang meniru adegan Smackdown, beberapa waktu yang lalu.
Ada yang lebih leboh lagi. Pada tahun 1999 Amerika Digemparkan dengan peristiwa penyandraan sebuah sekolah menengah di Kota Littleton selama 5 jam. Penyanderaan dilakukan oleh 2 orang siswa sekolah tersebut. Tidak main-main, penyanderaan dilakukan dengan memakai senjata api. Tragedi berdarah ini menelan korban tewas 12 orang dan seorang guru serta mencederai 23 orang. Penyaderaan berakhir dengan bunuh diri 2 orang penyadera tersebut dengan cara menembak diri mereka sendiri.
Setelah diselidiki, ternyata motif mereka melakukan hal tersebut semata demi membayangkan diri mereka tengah berada dalam cerita serupa dalam video yang mereka tonton.Tragis!
Hati-hati juga dengan tayangan berita kriminal di televisi, hal ini dapat mengganggu pola pikir anak. Misalnya berita poembunuhan atau bunuh diri dengan memperlihatkan kondisi mayat yang mengenaskan. Anak-anak bisa jadi terinspirasi dan meniru bentuk penyelesaian masalah yan dilihat dari televisi, tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Sedangkan tayangan supranatural berpotensi syirik ayang akan mengotori akidah ank-anak kita. Anak akan terpesona dengan kekuatan benda gaib, tokoh jagoan dan melupakan kekuasaan Allah.
Banyak yang tidak bermutu
Sebagian besar data yang disajikan stasiun teve adalah data yang tidak berguna (data smog, istilah David Shenk ). Yang tidak akan dapat memberi manfaat untu buah hati kita.
Mengganggu interaksi sosial
Anak yang sudah kecanduan teve, cenderung malas untuk berinteraksi sosial dan menjadi pasif. Interaksi denngan teman dan keluarga digantikan dengan keasyikan menonton suguhan di layar kaca. Begitu pula kesempatan mengembangkan minat akan hilang, sebab minatnya hanya tertuju pada teve. Hal ini tentu tidak baik terhadap perkembangan soisl, motorik maupun emosionalnya. Anak akan lebih sulit bekerjasama, mengendalikan emosinya. Selain itu anak dapat mengalami gangguan tidur karena hal-hal seram yang sering terlihat dalam film-film mistik ataupun horor tampak nyata bagi mereka.
Ada temuan yang menarik dari Hasil Temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terhadap film-film kartun. Film yang mengusung tema kepahlawanan ternyata lebih banbyak mengandung adegan antisosial (63,5%) daripada prososial (36,4%)
’Coach Potato Problem’
Duduk berlama-lam amenonton menyebabkan kegiatan fisik anak-anak berkurang. Dan jika nonton dilakukan sambil ngemil, dapat timbul gangguan ’Coach Potato Problem’ atau kegemukan. Istilah ini menggambarkan postur tubuh anak yang seperti kentang duduk. Bentuk tubuh ini dapat mengganggu pengembangan motorik kasak dan motorik halusnya.
Dapat menyebabkan gangguan fisik
Pada beberapa kasus di jepang, sejumlah film kartun atau games-Karena komposisi gambar dan warna serta adegannya-menimbulkan kejang-kejang atau sawan pada anak. Gangguan inimuncul karena memang tayangan itu langsung berhubungan dengan mata dan saraf.
KECANDUAN TV
Hati – hati jika anak :
- Kegiatannya hanya menonton TV, melakukan segala sesuatu sambil menonton TV
- Malas bergerak
- Malas melakukan kegiatan lain yang dulu sangat diminati
- Malas berinteraksi, menarik diri dari pergaulan
- Selalu membicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan tontonannya
- Menjadi mudah marah dan sensitif ketika diminta berhenti menonton
- Belajar terganggu, malas mengerjakan PR dan sulit memusatka perhatian
Diet TV, yuk!
Fakta-fakta di atas semakin mebuat saya miris, dan mendorong saya untuk menjalankan berbagai program diet TV.
Mulai dari diri sendiri
Keteladanan akan membekas pada diri anak kita. Jadi ketika saya ingin melakukan diet TV pada anak-anak kita, saya memulai dari diri saya sendiri. Karena kalau anak sering melihat kita menonton televisi, anak pun akan meniru kebiasaan kita
Jika memungkinkan, diskusikan bahaya TV untuk anak dengan orang-orang di rumah.
Hal ini akan menyamakan pandangan tentang TV dan lebih jauhnya mendukung program diet TV Walaupun hal ini tidak mudah, karena yang saya hadapi adalah orang tua. Dan terlebih, kami nebeng di sana. Kesamaan nilai akan mempengaruhi keberhasilan program ini. Jika kita ketat terhadap televisi, tapi yang lain tidak, sulit untuk berhasil
Membuat aturan menonton TV
Termasuk waktu menonton, jenis, tontonan dan lamanya menonton. menonton TV bisa dijadikan reward and funisment atas perilaku baik atau kedisiplinan anak. Misalnya boleh nonton TV kalau sudah mandi dan makan.. Sebaliknya,jam menonton dikurangi jika anak sulit mandi atau makan
Pendampingan ketika menonton TV
Selain menciptakan kebersamaan, pendampingan kita untuk menonton TV adalah kesempatan untuk mengklarifikasi hal yang tidak tepat, atau menerangkan hal yang belum jelas untuk anak.
Beralih ke TV kabel atau nonton DVD
Saya sempat terhenyak melihat iklan sebuah minuman ringan yang penuh adegan pornoaksi, dan serba permisif. Ditambah lagi durasinya sangat lama. Saking lamanya, saya kira video klip. Dan yang paling tragis, iklan itu diputar ketika jam tayang film anak. Jenis film mungkin masih bisa kita seleksi, tapi hati-hati dengan tayangan iklan yang tidak bisa kita seleksi. Hal ini membuat saya lebih tenang membiarkan anak-anak menonton DVD daripada menonton tayangan televisi, walaupun film yang diputar di TV itu sama dengan yang di DVD.
Membuat sebanyak-banyaknya alternatif kegiatan
Akan lebih mudah ketika kita membuat jadwal harian anak-anak, beserta berbagai kegiatan yang menarik seperti bersepeda, membersihkan kamar, memberi makan hewan peliharaan dan lain-lain. Selain mencegah anak-anak dari menonton televisi, hal ini menyenangkan dan bernilai edukatif bagi anak. Jadwal ini sangat membantu, terlebih ketika kita sedang mendelegasikan pengawasan anak pada orang lain, ketikabkita harus beraktivitas ke luar rumah
Menciptakan nuansa spiritual di rumah
Suasana spiritual yang kenal akan membangun akidah dan moral anak. Yang dapat mengcounter pengaruh TV yang tidak baik.
Misalnya dengan membiasakan shalat tepat waktu dengan mengajak anak, ketika adzan TV dimatikan, dan mengaji pada waktu-waktu tertentu. Menceritakan kisah-kisah yang mengandung nilai moral dan spiritual.
Ayah, Bunda, Semoga Allah memudahkan program diet TV kita semua.. Amien
dr. Ariani
http://Parentingislami.wordpress.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
